SOLO – Budayawan Kidung Tirto Suryo Kusumo mengapresiasi semua pihak yang telah membantu revitalisasi Bangunan Generator (Rumah Genset) Prabuwinatan di Kompleks Keraton Surakarta Hadiningrat yang sempat terbengkalai sejak 2015.
Dia menilai revitalisasi bangunan bersejarah itu sangat penting untuk menjaga sejarah dan melestarikan budaya bangsa, khususnya di Keraton Kasunanan Surakarta, sekaligus menjadi destinasi wisata edukasi bagi masyarakat luas.
“Rumah Genset atau Generator Prabuwinatan ini memang harus dilestarikan untuk pembelajaran bagi generasi mendatang. Kita apresiasi semua pihak yang terlibat dalam upaya revitalisasi, baik Pemkot Solo, para sesepuh keraton, pihak yayasan, tokoh masyarakat, maupun masyarakat khususnya warga Solo,” ungkap Kidung Tirto, Senin (31/8/2026).
Menurut dia, bangunan yang dibangun pada tahun 1920 tersebut bukan sekadar struktur biasa melainkan merupakan simbol modernisasi listrik pertama di keraton. Revitalisasi ini juga diharapkan mempererat kembali kekerabatan dan menciptakan suasana yang kondusif di lingkungan Keraton Surakarta.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Yayasan Kusumo Buwono, KPH Adipati Maji Noto Nagoro menjelaskan proses pengerjaan pemugaran ini mengedepankan prinsip kelestarian cagar budaya sesuai regulasi yang berlaku. Material asli bangunan tua yang roboh diselamatkan, dibersihkan, dan dimanfaatkan kembali.
Atap bangunan masih utuh 100 persen dan digunakan kembali, sementara ubin lantai lama terpakai hingga 55 persen. Batu bata kuno keluaran 1920 ini sangat kokoh dan direkatkan kembali.
“Dulu, bangunan ini merupakan simbol modernisasi listrik pertama di Keraton Solo, dilengkapi lima kolam pendingin generator yang juga berfungsi sebagai antisipasi pemadam kebakaran,” ujarnya saat peresmian Bangunan Generator pada Minggu (30/8/2026).
Wakil Ketua Yayasan Kusumo Buwono KPH Sahid Yasinco Kusumohadinegoro menekankan revitalisasi fisik ini membawa misi besar untuk menyatukan kembali kerabat keraton yang sempat berselisih. Pihaknya membuka pintu kolaborasi bagi seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah untuk menyelamatkan warisan budaya bangsa.
“Harapan kami, begitu hasil revitalisasi ini mulai kelihatan dan membawa manfaat nyata serta potensi pendapatan bagi Keraton, pihak-pihak yang berseteru bisa melunak dan kembali bersatu demi kebaikan bersama,” katanya.
Kerja sama penataan kawasan ini turut melibatkan Yayasan Warna Warni Indonesia yang dipimpin oleh Nina Akbar Tandjung dan Yayasan Tandhiyo Buwono Surakarta.
Pada kesempatan yang sama, Panembahan Agung Keraton Kasunanan Surakarta Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Panembahan Agung (KGPH-PA) Tedjowulan mengatakan revitalisasi tersebut mengawali rencana revitalisasi Keraton Surakarta yang telah dicanangkan sejak beberapa tahun lalu.
“Sebetulnya rencana revitalisasi keraton sudah saya pikirkan bersama dengan PB XIII, namun waktu itu dengan berbagai pertimbangan dan hambatan sehingga belum dapat terlaksana,” katanya.
Oleh karena itu, pihaknya memberikan apresiasi terhadap pihak-pihak yang telah merevitalisasi bangunan tersebut.
“Perlu saya sampaikan bahwa bulan September nanti pemerintah akan langsung masuk ke dalam keraton, seperti Keraton Kilen, Pakubuwanan, termasuk Museum Harsono Pustaka,” katanya.
Oleh karena itu, ia berharap pihak manapun yang merupakan kerabat Keraton Surakarta agar menciptakan suasana yang kondusif. “Mari bicara untuk kebaikan keraton ke depan,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta Maretha Dinar Cahyono, S.E., M.M. mengatakan, setelah direvitalisasi diharapkan ke depan masyarakat dapat mengetahui bagaimana dulunya rumah genset itu terbentuk.
“Jadi bentuk aslinya bagaimana. Kemudian juga bisa dimanfaatkan sebagai bahan pembelajaran, kemudian juga kunjungan, dan tempat pentas seni budaya. Jadi, silahkan nanti bisa dimanfaatkan. Kita juga nanti ketika memanfaatkan harus izin kepada pihak keraton,” katanya.







